3 Alternatif Metode Sekolah yang Harus Mama Tahu Sebelum Memilihkan Sekolah untuk Si Kecil

3 Alternatif Metode Sekolah yang Harus Mama Tahu Sebelum Memilihkan Sekolah untuk Si Kecil


Sebentar lagi tahun ajaran baru tiba nih, Ma. Sebentar lagi, Mama akan mulai dipusingkan dengan kesibukan memilih sekolah untuk si kecil ya.

Pasti ada banyak hal yang menjadi pertimbangan Mama ya, saat Mama harus memilihkan sekolah untuk si kecil. Terutama untuk sekolah-sekolah yang paling dasar, seperti preschool, taman kanak-kanak ataupun sekolah dasar. Kita memang nggak boleh sampai salah pilih sekolah, Ma, untuk anak-anak di usia emas seperti ini. Kalau sampai itu terjadi, bisa saja anak jadi tidak optimal perkembangannya.

Anak-anak masa kini seharusnya merasa beruntung, karena banyak pilihan sekolah tersedia. Kita sebagai orangtua hanya perlu mengenali tipe anak, dan kemudian mencarikan metode sekolah yang paling sesuai untuk anak kita masing-masing.

Memang sih di Indonesia masih banyak sekolah yang menggunakan metode konvensional, namun kini berkembang pula beberapa metode baru yang dikembangkan oleh sekolah-sekolah tertentu. Sekolah-sekolah dengan metode baru ini perlu didalami lebih dulu, dilihat dan dipertimbangkan dengan baik, Ma, apakah memang cocok untuk anak-anak kita.

Nah, sebagai referensi, kita akan membahas beberapa metode sekolah baru yang paling banyak ditemukan di dunia persekolahan Indonesia belakangan ini.


1. Montessori

Metode Montessori ditemukan oleh Maria Montessori, seorang dokter dan pendidik berkebangsaan Italia.

Ciri khas sekolah bermetode Montessori secara garis besarnya adalah sebagai berikut:


  • Lebih fokus pada kemandirian dan kebebasan anak untuk berkembang sesuai minatnya, dan mengapresiasi setiap anak sebagai individu yang unik.
  • Para siswa boleh memilih kegiatannya sendiri sesuai dengan usianya masing-masing.
  • Guru tidak memberi instruksi, namun akan menjelaskan dengan detail jika ditanya. Siswa dibiarkan mulai mengeksplorasi sendiri.
  • Tidak ada perbedaan ruangan untuk anak dari usia 2.5 tahun hingga 6 tahun, karena menganggap anak-anak yang lebih kecil dapat belajar dari kakak-kakaknya yang sudah lebih besar.
  • Segala fasilitas, seperti loker, lemari peralatan, kamar kecil, tempat mencuci tangan, tombol lampu dan lain-lain dibuat sesuai ukuran anak agar mereka bisa melakukan kegiatannya sendiri, misalnya mengambil alat-alat gambar, mengambil buku, mencuci tangan dan lain-lain.


Sedikit kekurangan dari metode Montessori adalah saat si kecil harus melanjutkan sekolah nanti, dia akan sedikit mengalami kesulitan beradaptasi jika sekolah lanjutannya juga nggak menggunakan metode Montessori.

So, sebaiknya hal ini juga dipikirkan ya, Ma.


2. Sekolah alam

Sekolah alam ini merupakan bentuk pendidikan alternatif yang menjadikan alam sebagai media utama eksplorasi. Alam sebagai ruang belajar, sebagai objek pembelajaran, dan sebagai bahan mengajar.

Ciri khas sekolah alam adalah sebagai berikut:

  • Siswa lebih banyak berinteraksi langsung dengan alam terbuka.
  • Metode sekolah alam akan lebih banyak mengajak anak untuk belajar melalui pengalaman.
  • Penggunaan alam sebagai media belajar ini juga bertujuan agar anak lebih peduli pada lingkungan.

Kekurangannya, Ma, sekolah alam ini kurang cocok untuk anak tipe visual, karena akan banyak terdistraksi oleh sesuatu yang bergerak.

So, kenali tipe belajar si kecil Mama lebih dahulu ya, supaya Mama nggak sampai salah memilihkan sekolah alam ini padahal dia cenderung bertipe visual.


3. Active Learning

Sekolah dengan metode active learning akan lebih mengutamakan pengembangan aspek kognitif (berpikir) dan afektif (perasaan), Ma. Makanya keterlibatan siswa dalam metode belajar seperti ini memang menjadi prioritas pertama.

Sekolah dengan active learning akan menerapkan metode-metode sebagai berikut.

  • Bertukar pikiran. Siswa meluangkan waktu selama beberapa menit untuk mengulang kembali pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya, kemudian didiskusikan bersama teman. Hasil bertukar pikiran ini kemudian dibawa ke diskusi kelas.
  • Diskusi kelas. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, kemudian diajak untuk berdiskusi bersama agar anak lebih kritis dan logis. Beberapa anak akan diminta untuk berperan sebagai moderator dan narasumber.
  • Debat. Siswa diberi kesempatan untuk mengambil posisi sebagai orang yang mempunyai opini, dan mengumpulkan data untuk memperkuat argumennya tersebut. Debat ini akan memberikan pengalaman verbal pada siswa.
  • Latihan menulis pendek. Biasa disebut makalah satu menit. Tujuannya untuk mengulang kembali materi yang sudah diberikan sebelumnya.
  • Sel belajar. Dua siswa saling tanya jawab berdasarkan materi yang sudah mereka baca dan pelajari.
  • Belajar aktif dengan film atau permainan kelas.


Nah, Mama, tiga metode sekolah yang dipaparkan di atas memang merupakan alternatif-alternatif metode sekolah yang saat ini banyak dipergunakan dan dikembangkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia.

Agar Mama lebih paham mengenai masing-masing metode tersebut, memang seharusnya Mama melihat langsung ke sekolah yang bersangkutan ya, Ma. Ada baiknya juga Mama memilih sekolah yang memperbolehkan calon siswanya untuk mencoba dulu bersekolah di situ sebelum mulai benar-benar belajar. Tujuannya tentu saja agar kita tahu apakah sekolah tersebut, dan metodenya, sesuai untuk gaya belajar si kecil.

Agar anak-anak nyaman belajar, tentu kita sebagai orangtua yang harus membantunya mengenali metode seperti apa yang cocok hingga mereka mampu menyerap semua materi dengan baik. Dengan memilih sekolah dengan metode yang cocok, maka harapannya sih si kecil nanti akan enjoy belajar dan menuntut ilmu di sekolah tersebut. Anak juga akan terhindar dari stres karena merasa materi belajarnya terlalu berat.

Selamat mulai memilih sekolah ya, Ma!
3 Alternatif Metode Sekolah yang Harus Mama Tahu Sebelum Memilihkan Sekolah untuk Si Kecil 3 Alternatif Metode Sekolah yang Harus Mama Tahu Sebelum Memilihkan Sekolah untuk Si Kecil Reviewed by Carolina Ratri on April 18, 2019 Rating: 5

No comments