Suami Juga Mengalami Gejala PMS Lo! Begini Cara Membantu Mengatasinya

Suami Juga Mengalami Gejala PMS Lo! Begini Cara Membantu Mengatasinya



Kalau kita lagi mengalami gejala PMS, terus bawaan moody, uring-uringan, bete, terus badan rasanya nggak nyaman, itu wajar ya, Ma. Setiap perempuan punya ‘derita’ PMS sendiri-sendiri. Ada yang ‘emosi’nya yang kesakitan, ya fisik kita yang sakit. Pegel, kram perut ... Ah. Biasa.

Dan, kayaknya hal ini juga menjadi hal yang biasa saja buat orang-orang yang di sekitar kita ya, Ma. Suami? Suami pasti juga sudah terbiasa deh.

Tapi, sering ngerasa nggak, kok seharian suami uring-uringan, bad mood, semua jadi serba salah? Padahal biasanya nggak kayak gitu juga. Ada apa nih? Kesambet?

Enggak, nggak kesambet, Ma. Tapi barangkali suami lagi mengalami gejala PMS juga. Ha? Emang pria juga punya gejala PMS? Iya, Ma.


Ini dia gejala PMS versi para suami

1. Cemburu!

Mama merasa suami mulai aneh? Mulai kepo berlebihan dengan segala aktivitas Mama? Mulai stalking Mama di media sosial? Rewel minta dikabarin setiap saat, apalagi kalau Mama lagi pergi. Minta Mama selalu bisa mengangkat telepon darinya dengan cepat, dan membalas pesan WhatsApp-nya juga dalam sedetik? Kemudian cranky saat Mama sedang telepon dengan seseorang, padahal Mama sebenarnya lagi teleponan sama klien?

Hmmm, jangan-jangan Papa lagi cemburu tuh.

Perasaan insecure akan timbul jika Papa mencurigai sesuatu terjadi pada Mama, dan Mama nggak justru malah merahasiakan darinya. Mood-nya jadi labil, dan dia jadi sulit berpikir jernih.

Kalau Papa lagi menyebalkan kayak gini, nggak perlu bersikap defensif, Ma. Menanyainya secara frontal dan langsung, misalnya seperti “Kok Papa nggak percaya sih sama Mama?”, biasanya justru malah akan memantik pertengkaran yang lebih hebat.

Obat penyembuh gejala PMS jenis ini adalah mengajaknya bicara. Jelaskan bahwa siapa pun yang sedang kontak dengan Mama hanyalah sekadar urusan bisnis atau pertemanan biasa.

Setelah itu, usahakan untuk selalu memberinya update berita mengenai kemajuan urusan yang sedang Mama tangani tersebut, sehingga Papa tak lagi merasa insecure.


2. Perut kosong

Papa marah-marah melulu, jadi nggak sabar ngadepin anak-anak, atau ada saja yang membuatnya menggerutu? Padahal sepertinya semua baik-baik saja.

Hmmm, coba tanyakan, apa Papa lagi lapar?

Kalau memang belum makan, Mama sebaiknya penuhi kebutuhan perutnya lebih dulu sebelum membahas permasalahan apa pun yang ada dengannya. Kalau perlu, ajak makan di luar, Ma. Ke resto yang nyaman dan makanannya enak.

Menurut penelitian oleh Livestrong, kurangnya asupan makanan ke dalam tubuh bisa membuat kadar glukosa menurun. Padahal glukosa diperlukan oleh tubuh untuk memasok energi ke otak agar kemudian kita bisa berpikir jernih, tenang, dan nggak mudah emosi.

Nah, supaya asupan energinya bisa stabil, pastikan kebutuhan perut suami selalu terpenuhi ya, Ma. Sediakan camilan di antara jam-jam makan, dan tentu akan lebih baik kalau Mama menyediakan camilan sehat, buah misalnya.


3. Terjebak macet

Pastinya menyetir mobil itu nggak kayak sedang main bombomcar ya, Ma. Menyetir butuh konsentrasi tinggi, dan ini semakin menguras energi saat harus melewati kemacetan jalan raya. Sudahlah capek, juga emosi. Pantes aja lama-lama ya bikin jengkel. Jadinya marah-marah terus.

Sampai di rumah, mungkin juga karena begitu capeknya, marah-marah dan betenya dilanjutin deh.

Nah, kalau kebetulan Mama terjebak macet bareng Papa, Mama bisa membantunya dengan tidak ikutan senewen. Nggak perlu juga sedikit-sedikit bilang, “Awas ada motor. Awas kiri mepet. Tuh, depan udah jalan.”

Biarkan saja dia menyetir, dan percayakan roda setir mobil sepenuhnya padanya. Mama justru bisa membantu dengan mengajaknya mengobrol mengenai hal lain yang bisa mengalihkan perhatiannya dari kemacetan yang ada di depannya. Ajak dia cerita-cerita lucu, atau Mama browsing-browsing aneka anekdot lucu lalu bacakan saja untuk Papa.

Jangan lupa juga untuk katakan, “Nggak apa-apa, Pa. Santai aja. Malah kita bisa ngobrol nyantai nih.”


4. Kolesterol tinggi

Dulu Papa adalah pria yang lembut, kok sekarang makin suka marah-marah ya?

Hmmm, mungkin ini waktunya cek kesehatan, Ma. Karena kadar kolesterol yang tinggi dalam darah bisa menjadi salah satu pemicu kita jadi nggak sabaran. Menurut para peneliti dari University of California, kolesterol yang kian meninggi berbanding lurus dengan peningkatan emosi dan risiko depresi, lo.

Sebenarnya kolesterol ini termasuk mudah untuk ditangani, Ma. Banyak obat-obatan yang bisa membantu Papa untuk menurunkan kolesterol, pun juga kalau didukung dengan menjaga pola makan. Tapi kolesterol ini ibarat kenangan, Ma. Semacam kalau sudah pernah datang, susah untuk pergi #ehgimana. Jadi memang kita harus mengubah, tak cuma pola makan, tapi keseluruhan pola hidup sehat.

So, mulai sekarang coba jadwalkan olahraga rutin bareng Papa. Kondisi fisik yang bugar tentu akan membuat mood selalu terjaga dengan baik.


5. Nunggu kelamaan

Entah itu nunggu Mama di salon, nunggu Mama arisan, atau sekadar nunggu Mama belanja. Kalau kelamaan, pasti bikin suami bete. Udah muter-muter ke semua toko sepatu di mal yang seluas samudera, ehhh ... balik lagi ke toko pertama dan akhirnya beli sepatu di situ. Hadeh.

Jadi, kalau memang Papa nggak suka menemani Mama puter-puter di mal, ya sebaiknya jangan dipaksa. Begitu pun kalau Mama merasa bakalan lama di salon. Lebih baik Mama minta diantar, lalu nanti dijemput. Pastikan jam berapa Mama sudah benar-benar selesai, lalu minta Papa jemput. Atau bisa juga, janjian kalau sudah selesai nanti akan telepon.

Kalau Mama suka dandannya lama, lebih baik Mama yang mulai lebih awal dandan ketimbang Papa. Perkirakan waktu dandan Mama, misalnya akan selesai dalam satu jam. Ya Mama harus mulai dandan satu jam sebelum Papa mulai siap-siap. Pria kan lebih cepet dandannya ketimbang kita kan ya?


6. Banyak kerjaan

Sebagian besar pria akan mulai stres saat mereka diminta untuk mengerjakan beberapa tugas sekaligus. Yup, they don’t do multitasking as good as we do, Ma.

Jadi, saat Papa sedang repot menyelesaikan satu tugas, dan kemudian sambil berpikir bagaimana dia akan menyelesaikan tugas berikutnya, sebaiknya Mama jangan menambah beban pikirannya. Apalagi pakai ngomen hal-hal yang nggak perlu. Tahan dulu saja ya, Ma.

Lebih baik Mama bantu Papa untuk memilah pekerjaan mana yang harus diprioritaskan, dan membuatkan to do list untuknya. Mama juga bisa membantunya mengecek pekerjaan-pekerjaan yang sudah dilakukannya.

Jangan lupa untuk memberikan semangat untuknya ya, Ma. Dengan begitu, kita bisa menjadi partner cinta sekaligus partner kerja yang bisa diandalkannya.


7. Dimarahi bos

Nah, ini nih. Biasanya terjadi mengikuti poin 6 di atas kalau kita nggak segera memberinya bantuan, Ma.

Pernah dengar Halo Effect? Ini adalah saat bos komplain pada manajer mengenai ketidakberesan yang terjadi dalam perusahaan, dan kemudian manajer melanjutkannya pada karyawan-karyawan yang secara struktur berada di bawahnya, dan demikian seterusnya. Dan ini berarti ada kemungkinan si suami mendapat juga dampaknya. Sehingga berefek juga pada kita.

Halo Effect terjadi karena seseorang membutuhkan tempat untuk melampiaskan emosi. Mama bisa membantu Papa yang terkena dampak Halo Effect ini dengan menanyakan bagaimana harinya di kantor hari ini.

Dengan demikian, Papa akan curhat pada Mama jika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sehingga dia mempunyai tempat pelampiasan emosi yang sehat. Setelah Papa puas curhat, barangkali Mama bisa menghiburnya.



Asal Papa meluapkan emosi atau menunjukkan emosinya dalam batas normal, semuanya pasti akan baik-baik saja. Gejala PMS yang dialaminya akan bisa diatasi dengan baik.

Jadi ayo kita bantu, agar dia merasa lebih baik.

Suami Juga Mengalami Gejala PMS Lo! Begini Cara Membantu Mengatasinya Suami Juga Mengalami Gejala PMS Lo! Begini Cara Membantu Mengatasinya Reviewed by Carolina Ratri on March 28, 2019 Rating: 5

No comments