17 Resep Bahagia Menjadi Seorang Ibu Bekerja

17 Resep Bahagia Menjadi Seorang Ibu Bekerja


Menjadi ibu bekerja itu kayak mendaki gunung Himalaya. Eh, emang pernah ya, Ma?

Kenapa gitu? Soalnya penuh dengan aral rintangan dan ujian tahan banting mental di mana-mana. Sudahlah dalam bekerja, kita dituntut lincah menyeimbangkan kewajiban di rumah dengan tugas di kantor, belum lagi masih dipandang agak miring oleh sebagian masyarakat yang memiliki pola pikir kaku.

Yang paling berat itu ya ini, pandangan miring yang melihat kalau seorang ibu bekerja itu kurang tanggung jawab pada keluarga. Padahal urusan pilihan menjadi ibu bekerja atau ibu yang tinggal di rumah itu bukannya urusan panggilan jiwa ya?

Padahal lagi, faktor lainnya yang membuat kita memutuskan untuk menjadi ibu bekerja adalah karena kita memiliki karunia berlebih yang dapat diaktualisasikan, sehingga lebih bermanfaat bagi sesama.

Lagi pula, memangnya kenapa dengan membantu suami dan keluarga untuk mendapat penghasilan lebih?

Di sisi lain, kalau dipikir-pikir ya, seorang ibu bekerja itu sering kali kehilangan arah mengenai apa yang sebenarnya diinginkannya dalam hidup. Mengapa? Ya soalnya otaknya tuh sudah dipenuhi serentetan to do-list antara urusan rumah dengan kantor atau kerjaan.

Kadang rasanya, kehilangan diri sendiri bener deh. Semacam, ngapain sih dibelain tangan jadi kaki, kaki jadi tangan begini?  Tapi, mau berbalik arah juga dipepet kondisi, sehingga sudah tak memungkinkan lagi.

Well, make happiness for yourself, then, Mama! Bahagia itu bisa dibikin kok. Bahkan untuk kita, para ibu bekerja--baik yang bekerja di kantor maupun yang bekerja di rumah.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan demi agar bisa mendapatkan sedikit ruang untuk menghirup napas dengan ringan dan, mungkin, bisa sedikit menghadirkan secercah kebahagiaan dalam hati. Tsah.

17 Resep Bahagia Menjadi Seorang Ibu Bekerja

1. Liburan

Oh wajib nih! Terutama kalau mental kita sudah lelah karena bertubi-tubinya ditekan dari 2 arah; keluarga dan kantor.

Pantas banget kalau kita sangat butuh liburan.

Mental yang rileks akan memberikan ruang untuk masuknya ide dan inspirasi sehingga kita akan lebih kreatif dan produktif.

Terus, kalau nggak punya banyak bujet buat liburan impian, gimandose?

Ya, kita bisa kok, sesuaikan dengan liburan murah. Ah, kapan-kapan kita bahas sendiri deh, trik-trik liburan murah ini yes?

Yang penting sekarang, rencanakanlah liburan sesuai kebutuhan, dan anggaran tentu saja. Saat liburan, matikan handphone dan laptop, dan fokus pada sesi penyegaran mental dan healing processnya.

Jadi, mau ke mana kita?


2. Diet media sosial

Sudah banyak banget penelitian yang menyatakan, bahwa orang yang terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bermedia sosial sebenarnya mengalami gangguan jiwa jenis tertentu. Bahkan orang yang jiwanya sehat, jadi memiliki gangguan setelah aktif bermedsos.

Jadi, Mama, adalah sangat penting dan patut dicoba untuk menonaktifkan diri dari media sosial sesekali, hingga tahap kita tidak lagi gelisah tanpa aktif di media sosial.


3. Lupakan urusan kantor saat sudah di rumah

Fokuslah pada anak-anak dan suami saat sudah di rumah. Meskipun mungkin bos bolak-balik telepon, tapi kita tahu kode etik dunia kerja tidak berlaku lagi saat seorang karyawan sudah ada di rumah.

Saat fokus pada anak, kita juga akan menyediakan waktu berkualitas untuk anak dan suami sehingga ikatan batin kita dengan anak-anak dan suami tetap kuat.


4. Tidur di hari libur

Kurang tidur adalah induk dari segala macam penyakit fisik maupun psikis, sekaligus mengganggu stabilitas hormonal yang membuat tubuh mudah menggendut.

Maka nggak ada salahnya kita gunakan hari libur untuk mendapat jam tidur ekstra secara suka-suka, demi kesehatan dan kesegaran tubuh maupun pikiran.


5. Tantrum sesekali waktu atau menangis

Sebagai manusia, menunjukkan sisi kemanusiaan kita dengan marah, menangis, mengekspresikan rasa sedih itu perlu. Selain kitanya sendiri juga melepaskan tekanan batin, kita bisa memahamkan anggota keluarga bahwa kita setiap harinya kadang juga lelah berjuang menyeimbangkan tugas di rumah dan kantor.

Bonusnya, kita akan membuat anak-anak dan suami lebih bisa diajak bekerja sama untuk mengemban tanggung jawab di rumah, dan mendapatkan pengertian mereka jika kita membutuhkan waktu khusus untuk bekerja.

Jadi, bolehlah berganti tugas sesekali. Kita yang tantrum, jangan anak-anak melulu yang boleh rewel yes?


6. Membagi tugas dengan bijak di rumah, seprofesional di tempat kerja

Di kantor, kita memegang tanggung jawab agar pekerjaan yang dilakukan bersama tim selesai tepat waktu. Begitu juga di pekerjaan di rumah. Urusan rumah yang tak pernah ada habisnya itu akan lebih bisa diselaraskan ritmenya kalau seluruh keluarga terlibat, dan bukan semuanya terlimpahkan pada diri kita sendiri.

Jadi, ayo, Ma, delegasikan tugas rumah tangga yang bisa dilakukan oleh masing-masing anggota keluarga; suami dan anak-anak. Bahkan yang masih balita pun bisa kok membantu.


7. Memutuskan diri dengan teknologi secara terjadwal

Memang, semua yang ada layarnya itu bisa bikin kecanduan dan membuat seorang individu terisolir asyik sendiri dengan dunianya.

And you know what, sebagai ibu bekerja tentu terkadang merasakan sangat terbantu dengan adanya perangkat digital tersebut. Tapi kalau sampai overdosis, maka bisa jadi akan membuat kita kecanduan, dan itu jelas tidak sehat untuk psikologis kita dan keluarga.

Untuk menetralisasi ketidakseimbangan itu, perlu diadakan pemutusan dengan teknologi secara terjadwal yang dilakukan oleh seluruh keluarga. Ganti dengan aktivitas fisik yang merekatkan kebersamaan, seperti hiking atau berwisata alam ke tempat favorit. Atau, sekadar staycation di suatu hotel juga oke tuh.


8. Fokus pada hal yang disukai, terutama saat di kantor

Tidak ada pekerjaan yang sempurna bagi seseorang, tapi pasti ada dong, satu dua hal yang menyenangkan untuk dilakukan di kantor. 

Fokuslah pada hal menyenangkan yang bisa membuat kita mendapat reward dari kantor. Dengan melakukan ini, kita akan terus bersikap dan berpikir positif di tempat kerja, yang akan membawa efek sampai ke rumah.


9. Ngobrol dan ngerumpi dengan sahabat

Rumpian paling asyik tanpa filter dan khawatir dihakimi adalah dengan sahabat. Meski tentu kira juga tetap harus menjaga batasan.

Kata peneliti, ngobrol dengan sahabat akan meringankan kecemasan, meningkatkan kualitas kesehatan bahkan memperpanjang usia.

Akhir pekan sering kali menjadi hari keluarga, tapi sekali-kali bolehlah kita jadikan hari me time. Mau sendiri atau bersama sahabat untuk sekedar ngopi bareng, shopping, spa, jalan-jalan, mana saja yang membuat kita merasa hepi.

Dan kemudian, segera kembali ke keluarga dalam keadaan fresh.


10. Lakukan profesional headshot sesuai minat

Nah, kalau yang satu ini ada hubungannya dengan aktualitas dan kepercayaan diri, sehingga perlu sesekali dilakukan.

Jika kita adalah seorang profesional di bidang yang kita geluti, maka tak ada salahnya jika sekali waktu kita menunjukkannya dan memamerkannya. Caranya? Misalnya dengan bergabung di komunitas, dan kemudian ikutan sharing.

Kita bisa mengadakan pelatihan, pembinaan, pemberdayaan, atau konsultansi yang sesuai dengan kacamata profesional kita.

Coba rasakan. Setelah acara sharing, akan ada endorfin yang meledak di kepala. Kita akan jadi lebih positif, percaya diri, dan menguji sisi kepemimpinan diri.


11. Mencoba hal baru

Kalau selama ini sebagai ibu bekerja, kita selalu berkutat dengan angka, paperworks, data, dan segala sesuatu yang monoton, boleh dong sekali-kali mencoba kegiatan lain.

Merajut, melukis, diving, hiking, yoga, taichi, dan masih banyak lagi hobi baru yang mungkin tak pernah terlintas dalam pikiran, itu harus dicoba, Ma. Barangkali dengan begitu, kita jadi punya minat baru kan?

Lumayan banget buat kesehatan jiwa itu.


12. Bersikap tegas di tempat kerja

Sebagai seorang ibu bekerja, pastinya kita udah mahir banget untuk multitasking. Tapi jangan sampai mengorbankan diri sendiri sampai-sampai kepercayaan diri dan kedamaian internal kita terganggu.

Sering kali ketidakmampuan teman kerja atau drama yang kita alami membuat kita jadi melakukan semuanya, seperti single fighter. Akhirnya surut deh, enggan melangkah karena kapok.

So, demi kesehatan jiwa juga nih, Ma, sikap tegas itu perlu agar profesionalisme tetap terjaga. Jika pekerjaan kita belum selesai, jangan dengarkan keluh kesah orang lain. Tempatkan mereka di prioritas kesekian.


13. Olahraga

Tentu saja terlalu banyak manfaat olahraga dan tidak akan selesai dibahas hanya dalam satu paragraf.

Tapi yang pasti olahraga efektif mengurangi stres dan menghindarkan tubuh dari beragam penyakit berbahaya, memperkuat otot dan tulang, sekaligus meningkatkan mood.

So, tinggalkan alasan sibuk, Ma. Kita memang berstatus ibu bekerja yang supersibuk sepanjang waktu. Tapi, bisa kok membuat waktu untuk berolahraga barang 30 menit dalam sehari.


14. Pastikan suami juga menghabiskan waktu dengan anak-anak

Membagi tugas pengasuhan bisa dilaksanakan secara fair dong, ya, entah itu membantu anak mengerjakan PR, bermain, membacakan buku, dan aktivitas lain.

Jadi, jangan menjadi martir yang mengorbankan diri hingga titik penghabisan. Nggak banget deh. Bukan tugas kita sendirian kok ini.

Hal ini juga sangat penting untuk menjaga kedinamisan keluarga juga, agar kita tetap sehat secara mental. Selain itu, kesetaraan tugas dengan suami ini adalah hal yang sangat layak kita peroleh.


15. Kencan dengan suami sesekali

Kencan itu ya hanya berdua kayak masa pendekatan dulu itulah. Coba lakukan, kalau bisa sebulan sekali aja itu udah luar biasa.

Kalau kita membawa anak mungkin akan seru tapi nuansa romantismenya bakalan kurang, bukan lover vibes gitu deh. Padahal mungkin yang perlu sering-sering dibangkitkan ya getaran-getaran dengan suami kan, Ma?

Ya, soalnya kalau sama dengan anak-anak pasti sudah sering kita lakukan secara rutin.


16. Taklukkan rasa bersalah

Seperti yang kita bahas di atas, menjadi seorang ibu bekerja itu berat tekanannya. Si Dilan aja nggak akan kuat. Sebab peer pressure-nya itu yang menggelayut di jiwa kita. Masyarakat masih kurang adil memandang ibu bekerja seolah-olah tidak perhatian pada anak dan keluarga.

Padahal salah besar, kalau pilihan kita untuk bekerja sudah mantap dan bukan paksaan, terlebih sudah mendapat dukungan penuh keluarga. Jalan terus aja, Ma. Masyarakat ini membutuhkan potensi kita, maka enyahkan saja rasa bersalah itu.


17. Memaafkan diri sendiri

Percaya atau tidak, adalah biasa bagi seorang ibu bekerja untuk sesekali menangis jika tidak mampu atau kewalahan menangani urusan rumah.

Tangan kita hanya dua, dalam pikiran ini pun sudah sangat berkecamuk soal penyelesaian tanggung jawab baik di rumah ataupun di kantor.

Maka sangat perlu bagi kita untuk belajar memaafkan diri sendiri, jika ada hal yang tidak tuntas atau sempurna penanganannya. Sebab kalau kita stres atas tidak sempurnanya urusan di rumah, justru tidak akan produktif pada pekerjaan lainnya.


Siapa pun kita berhak untuk merasa bahagia, membuat diri sendiri menjadi bahagia. Don't be hard to yourself, dan maklumi kondisi semaksimal mungkin. Kekurangan di sana sini itu wajar, justru itulah yang membuat kita benar-benar merasa hidup.




17 Resep Bahagia Menjadi Seorang Ibu Bekerja 17 Resep Bahagia Menjadi Seorang Ibu Bekerja Reviewed by Carolina Ratri on November 16, 2018 Rating: 5

No comments