5 Pikiran yang Melintas di Benak Sesaat Setelah Melahirkan - Mau Hakimi Kami?



Apa yang dirasakan oleh seorang ibu sesaat setelah melahirkan? Saat tangan ini pertama kali memeluk bayi yang baru saja dilahirkan?

Jujur saja, saya blank waktu itu.
Ya, saya bahagia, tapi itu karena saya harus merasa demikian. Orang-orang bilang, seorang ibu itu seharusnya merasa bahagia saat sudah berhasil melahirkan bayinya.
Maka dari itu, saya pun lalu merasa bahagia.

Selebihnya, entahlah.
Yang pasti, saya bertanya-tanya sendiri.

Jadi, saya harus menyusuinya ya? Gimana caranya? Oh iya, kemarin sudah lihat video-video di Youtube secara detail. Tapi kok susah ya? Lha, anaknya malah rewel. Kayaknya nggak mau nyusu.
Oh, jadi saya juga harus mengurusnya setiap malam ya? Kenapa bayi lapar setiap sejam sekali begini seharian? Terus, kapan saya tidurnya ya?
Oh, iya. Saya juga harus mengurus suami juga ya? Masakin, lalu nyuci baju. Juga harus bersih-bersih rumah ya?
Tapi bayinya kok minta susu terus ya? Apa ini memang harus saya semua yang ngurusin?

Silakan hakimi. Saya tak peduli.
That's how I was.

Saya bahagia, saya tak harus melaluinya lagi. Menjadi ibu baru itu sungguh sesuatu.

Ya, pengalaman menjadi ibu baru itu memang tak pernah mudah bukan?

Setiap ibu pasti punya permasalahan sendiri-sendiri saat melewati fase setelah melahirkan ini, dan memang butuh perjuangan. Makanya, seorang ibu membutuhkan banyak dukungan, baik itu dari suami ataupun dari keluarga yang lain.

Meski banyak orang ikut gembira menyambut kedatangan si bayi, mendoakan, dan memberi kita segala bantuan dan support yang mungkin kita butuhkan, ada kalanya ada perasaan takut, cemas, dan sedih yang diam-diam datang ke hati.

Kita sama sekali nggak bisa mengungkapkannya pada orang lain, karena kita takut dianggap nggak sayang pada anak kita sendiri, ataupun takut dianggap tak mensyukuri anugerah terindah dari Tuhan ini.

Wajarkah hal ini terjadi?
Saya tak tahu. Tapi, nyatanya ya saya baik-baik saja sekarang. Cinta saya buat anak-anak tetap bulat utuh. Bukan berarti, karena berpikiran demikian, lantas seorang ibu berarti nggak cinta sama anak-anaknya.

Anak-anak tetap mengisi ruang hati, penuh dan utuh.

Tapi hal-hal seperti ini, sepertinya tak terhindarkan untuk melintas sesaat setelah melahirkan


1. Enakan pas hamil


Coba ya, dipikirkan.

Saat hamil 9 bulan, kita benar-benar dimanja. Mau minta apa saja, suami menuruti. Mau melakukan apa saja, semua orang maklum.

Yaaahh, namanya saja ibu hamil. Bebas! Makan apa saja? Ayo! Atas nama ada dua nyawa yang harus dikasih makan kan? (Meski itu adalah ajaran yang salah) Belum lagi saat merasakan tendangan-tendangan ajaib itu.

Dan kemudian saat si bayi sudah dilahirkan. Mendadak, kita yang tadinya dimanja, harus siap begadang tiap malam, berjuang menyusui bayi.

Rasa takut itu kemudian timbul. Apalagi kalau si bayi batuk dan pilek. Kita bahkan akan berkata pada diri kita sendiri, “Mereka nggak akan pilek saat mereka masih di perut.”

You suddenly miss your pregnancy time.


2. Ingin libur dari tugas-tugas yang lain

Your baby is addictive. Right?

Kita bisa memeluk, mencium, dan menimang mereka sepanjang waktu. Kita tak bisa melepas pandangan mata kita darinya. Kita juga tak pernah merasa lelah untuk berada di dekatnya

Sayangnya, ada banyak tugas lain yang harus diselesaikan. Ada makanan yang harus dimasak untuk suami,  ada tumpukan piring untuk dicuci, rumah untuk dibereskan, dan mungkin bahkan ada anak-anak lain untuk diurus.

Ada perasaan ingin mengabaikan semuanya, kecuali tentang si newborn baby. Apalagi jika yang lain-lain itu begitu melelahkan, menambah ‘jam kerja’ kita saja yang makin panjang setelah malam-malam kurang tidur karena si bayi masih belum teratur jam tidurnya.

Rasanya seperti pengin bilang, "Tolong kembalikan jam tidur saya yang semula!"


3. Kehilangan waktu kebersamaan dengan yang lain

Sebelumnya, kita rajin nongkrong ngopi-ngopi di kafe bareng teman-teman. Atau sekadar ikut arisan dan makan bareng. Setelah melahirkan? Pasti sudah nggak sesering dulu lagi nongkrongnya sekarang. Atau bahkan, sama sekali sudah nggak pernah?

Sebelumnya, barangkali juga teratur nonton film di bioskop, baik bareng suami, teman-teman atau keluarga yang lain. Pasti sekarang sudah berkurang ya. Paling banter nonton film-film yang diputar di televisi kabel, dengan si bayi dalam pelukan.

Sebelumnya kita bisa  dengan leluasa jalan-jalan ke mana saja. Sekarang?

Kangen banget dengan waktu-waktu itu, Apalagi kalau si bayi juga sudah punya kakak. Ada banyak momen, saat kita merasa waktu berkurang untuk mengurus si Kakak?

Maka, sepertinya wajar jika kita kemudian berpikir bahwa mengurus si bayi itu ternyata telah menyita segala-galanya. Ya waktu, tenaga, dan cinta pada yang lain.


4. Nggak mau / takut keluar rumah dengan mengajak si bayi

Kita ada keperluan penting dan harus keluar rumah. Tapi, bagaimana dengan si bayi? Nggak ada orang untuk dimintai bantuan menjaganya sejenak. Ada si Kakak juga. Padahal urusan ini begitu penting. Nggak bisa ditunda.

Bayangan membawa bayi keluar rumah tiba-tiba saja menjadi sangat menakutkan.

Bagaimana nanti kalauia tiba-tiba rewel? Bagaimana nanti kalau tiba-tiba popoknya penuh dan harus diganti? Bagaimana nanti kalau si Kakak berkeliaran ke mana-mana tanpa bisa dikendalikan?

Lalu, orang-orang, biasanya mereka suka gemes pada bayi? Gimana kalau ia dicolak-colek, lalu mereka minta gendong, padahal kita nggak tahu apa tangannya bersih?

Dan kemudian tiba-tiba, kita bingung dan nggak tahu harus gimana. Rasanya punya bayi ini merepotkan sekali ya? Hiks.


5. Breastfeeding is overwhelming

Semua ibu pasti ingin anaknya sehat, terpenuhi kebutuhannya, dan kemudian tumbuh sempurna. Namun, kadang kondisi dan situasinya menjadi sangat berbeda.

Bahkan para ibu yang ASI-nya lancar pun sekali dua kali waktu pernah terpikir untuk menyerah. Apalagi bagi ibu yang masih saja berjuang memperlancar ASI-nya.

Semua sangat exhausting. Melelahkan, membuat kewalahan. Akhirnya memang ada ibu yang terus berjuang, dan ada pula yang memilih alternatif yang lain karena punya alasan-alasan tertentu yang tak boleh kita hakimi.

Belum lagi, perkataan orang-orang di sekitar, yang inilah itulah. Ditambah dengan perang antara para ibu sendiri mengenai ASI dan susu formula. Aduduh.


Semua hal di atas memang wajar datang dalam pikiran ibu baru dari bayi yang juga baru lahir.

Jika Mama sedang berada dalam fase ini sekarang, tak perlu cemas, Ma. Karena dalam beberapa bulan mendatang, semua akan membaik dengan sendirinya.

Mama akan segera kembali bisa beraktivitas rutin, bisa membagi waktu antara mengurus bayi, dan juga si Kakak plus suami Mama, bahkan mungkin Mama akan juga mulai bisa lagi nongkrong-nongkrong cantik bersama teman-teman Mama di kedai kopi favorit seperti dulu lagi.

Mama akan semakin pengalaman dan “profesional” sebagai ibu. Mama hanya butuh waktu menyesuaikan diri.

It’s ok to admit all of those feelings, Ma. Karena semuanya wajar adanya. Mama sedang berada dalam masa-masa euforia mendapatkan anugerah terindah sebagai perempuan. Dan Mama pasti akan bisa mengatasinya.

5 Pikiran yang Melintas di Benak Sesaat Setelah Melahirkan - Mau Hakimi Kami? 5 Pikiran yang Melintas di Benak Sesaat Setelah Melahirkan - Mau Hakimi Kami? Reviewed by Carolina Ratri on September 01, 2018 Rating: 5

No comments