Please, Jangan Mengatakan 5 Hal Ini pada Ibu Setelah Melahirkan

Jangan berkomentar seperti ini saat bertemu dengan ibu setelah melahirkan. Image via Pregnancy & Baby.


Setelah melahirkan, seorang ibu akan rentan akan stres dan depresi. Ini benar-benar nyata dan fakta.

Setiap ibu memang punya cerita kehamilan dan persalinannya masing-masing. Setiap ibu harus melalui perjuangannya sendiri-sendiri. Satu sama lain tak bisa disamaratakan.

Nggak semua ibu bisa secantik Dian Sastro terus saat hamil. Juga, nggak semua ibu bisa sesempurna Neng Andien. Pun nggak semua ibu bisa punya babysitter, yang bisa merawat bayinya 24/7 kayak Ashanti.

Tapi, ada hal yang sama.

Setelah melahirkan, setiap ibu butuh banyak perhatian dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Perasaannya masih sensitif, hormonnya belum stabil, rasa capainya belum juga hilang, rasa nyerinya belum sembuh, bahkan traumanya masih menghantui.

Masih dalam kondisi yang lemah begitu, jangan deh menambah beban pikirannya dengan berbagai komentar yang bahkan nggak perlu sama sekali dilontarkan. Komentar yang dipikir hanya sekadar basa-basi, tapi basi beneran. Yang dirasa normal untuk ditanyakan atau dinyatakan, tapi bikin hati perih.

Ah, manusia. Kadang bisanya cuma komentar sih memang.
Tapi, seharusnya kita bisa lebih pintar dan cerdas dalam memberikan komentar.

Tahu nggak sih, bahwa dengan tidak memberi komentar yang nggak enak itu berarti kita telah memberikan support bagi para ibu baru ini, untuk segera pulih. Dengan nggak berkomentar sembarangan, kita juga bisa mencegah stres dan depresi datang pada para ibu baru.

Ya, hindarilah 5 komentar ini saat bertemu dengan ibu baru setelah melahirkan


"Jadi, lahiran caesar? Kenapa? Takut sakit ya?"


Well, ada banyak sekali alasan mengapa seorang ibu harus menjalani operasi caesar untuk melahirkan bayinya. Dan ini adalah urusan dokter. Bahkan sang ibu pun tak bisa berbuat terlalu banyak, jika memang alasan kesehatan yang menjadi bahan pertimbangannya.

Melahirkan adalah soal hidup. Bukan sekadar takut sakit.

Para ibu tak boleh egois, memaksakan diri untuk melahirkan normal padahal tidak memungkinkan bisa membahayakan bayi.

Cobalah untuk mengganti komen ini dengan komen lain yang lebih cerdas.


"Kok nggak mirip mama/papanya, ya?"


Ya, terus kenapa kalau nggak mirip?
Memangnya kita bisa pesan pada Tuhan waktu baru dikasih, biar bayinya selalu mirip orang tuanya?

Lagi pula, apa sih maksudnya pertanyaan ini? Mau mempertanyakan masalah biologis gitu? Ngajak gelut banget sih?


"Kok masih kurus aja nih bayinya? ASI-nya kurang ya?"

Please deh, ibu mana sih yang nggak mau memberikan asupan terbaik untuk anak?

Nggak usah ngejudge begitu deh. Alih-alih, akan lebih baik kalau kita kasih bentuk dukungan yang lain, misalnya dengan memberi oleh-oleh berupa buah-buahan dan sayur-sayuran hijau, supaya bisa merangsang produksi ASI si ibu.

Lalu, tanyakan pada sang ibu, sudah menghubungi konselor laktasi belum? Kalau belum, dan dia bersedia, kita bisa membantunya untuk mencari konselor ASI.

Akan lebih berfaedah ketimbang cuma komentar kan?


"Ha? Sampai 24 jam mulesnya? Aku dulu gampang banget! Ngeden sebentar, langsung keluar."

Yakali!
Lupa ya, kalau kondisi tubuh orang itu berbeda-beda. Termasuk kondisi tubuh para ibu. Sudah begitu, manajemen takutnya juga sendiri-sendiri. Ada orang yang punya ambang rasa sakit yang luas, ada yang baru sakit sedikit menjerit-jerit.

Tak hanya kondisi kesehatan, kondisi psikologis juga sangat memengaruhi lancar tidaknya proses melahirkan yang harus dijalani.

Jadi, coba ya, maksudnya apa tuh komentar?


"Lho, kok cowok/cewek lagi? Wah, kalau gitu, bikin lagi biar lengkap!"

Dikata punya anak itu segampang bikin ayam basil teriyaki apa ya?
Bikin lagi?

Sudahlah. Setiap keluarga punya pertimbangan sendiri-sendiri, berapa anak yang mereka inginkan untuk hadir di tengah keluarga. Bahkan, jika sepasang suami istri memutuskan untuk tidak mempunyai keturunan pun--jika memang ada--itu adalah hak mereka kok.

Siapa sih kita, yang suka ngatur-ngatur hidup orang?


Yes, semua komentar di atas itu memang bikin ZBL dan KZL maksimal kan? Bahkan bisa bikin semakin stres deh.

Setelah melahirkan, seorang ibu perlu waktu untuk tenang agar bisa segera pulih dan beradaptasi dengan bayinya yang baru lahir.

Lagi pula, kondisi kejiwaan orang lain siapa yang bisa tahu dengan pasti.

Lebih baik berikan kata-kata dan komentar positif saja untuk si ibu. Sang ibu hepi, kita yang berada di dekatnya juga nyaman.

Yuk, cerdas berkomentar!
Please, Jangan Mengatakan 5 Hal Ini pada Ibu Setelah Melahirkan Please, Jangan Mengatakan 5 Hal Ini pada Ibu Setelah Melahirkan Reviewed by Carolina Ratri on September 03, 2018 Rating: 5

No comments