Hentikan Eksploitasi Anak - Jangan Salah, Kita Sendiri Juga Sering Melakukannya Lo!

Hentikan eksploitasi anak! Image via Two Hat Security


Eksploitasi anak memang sangat rentan terjadi. Di mana-mana rasanya selalu saja kita temukan.

Ketika berada di jalanan, berapa banyak Mama menemukan anak di bawah umur yang menjadi pengemis atau pengamen? Saat menonton televisi, berapa kali Mama melihat anak kecil yang didandani dan bergaya bicara seperti orang dewasa? Lalu, di media sosial? Berapa banyak buibu mengunggah foto anaknya without any consents? Saat anaknya tak berpakaian layak, atau dalam kondisi yang nggak pantas?
Demi apa? Demi likes? Demi komen? Untuk keuntungan siapa? Keuntungan anak atau bukan?

Yang seperti itu, sebenarnya termasuk eksploitasi anak bukan sih?

Well, FYI, eksploitasi anak merupakan tindakan memanfaatkan anak sebagai objek untuk memenuhi kebutuhan orang dewasa di sekitarnya.

Parahnya, eksploitasi anak paling banyak dilakukan justru oleh orang tuanya sendiri.  Dengan alasan membantu ekonomi keluarga, mereka pun dipaksa untuk ‘bekerja’.

Menurut survey oleh Biro Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2009 tercatat 4.1 juta anak atau sekitar 6.9% dari total 58.7 juta anak Indonesia usia 5-17 tahun menjadi pekerja di bawah umur. Dan mirisnya, angka tersebut bertambah setiap tahunnya.


Jangan hanya iba

Indonesia sebenarnya memiliki peraturan yang jelas mengenai eksploitasi anak, seperti yang tercatat dalam pasal 88 UU no. 23 tahun 2002.

Di dalamnya tercantum, bahwa jika seseorang terbukti melakukan eksploitasi ekonomi terhadap seorang anak, maka dapat diancam pidana penjara selama 10 tahun dan denda 200 juta rupiah.

Sayangnya, peraturan tersebut belum dijalankan dengan baik. Buktinya, masih banyak anak di bawah umur, bahkan balita, berkeliaran di jalanan untuk mencari uang.

Peran kita, Ma, sebagai masyarakat pun dibutuhkan di sini. Ketika bertemu dengan anak kecil dengan pakaian lusuh dan bertubuh kurus sedang mengemis, kita mungkin akan merasa iba ya. Tetapi, sebaiknya berhentilah memberi uang, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan hanya menambah jumlah anak-anak tersebut.

FYI, Ma, bertambahnya jumlah pengemis dan pengamen di bawah umur dari tahun ke tahun terjadi karena mereka ‘menikmati’ rasa kasihan yang kita berikan pada mereka.

‘Kemudahan’ hidup di jalanan membuat para pengemis dan pengamen anak-anak tidak termotivasi untuk melepaskan diri dari cengkeraman jalanan. Mereka pun semakin sulit menyadari bahwa mereka sedang dieksploitasi.

Hal itu pula yang kemudian mendorong pemerintah kita untuk melarang warganya memberikan uang kepada pengemis. Sudah ada undang-undangnya malah ya, di tiap-tiap daerah.

Di dalam undang-undang tersebut disebutkan, bahwa memberi sejumlah uang kepada pengemis, pengamen, dan pengelap mobil serta membeli barang dari pedagang asongan di jalanan bisa diganjar penjara 10 – 60 hari, atau denda 100 ribu hingga 20 juta rupiah.


Jadilah sahabat

Salah satu cara yang harus dilakukan untuk menyelamatkan anak-anak dari eksploitasi adalah dengan menjadi sahabatnya.

Perlakukan mereka seperti anak pada umumnya, dan dengarkanlah keluhannya. Berhentilah memberikan pandangan iba atau malah sinis pada mereka, karena sejatinya mereka juga punya perasaan dan butuh perlindungan.

Jika Mama menemukan anak di bawah umur yang menjadi korban eksploitasi dan diperlakukan dengan tak wajar, Mama juga bisa melaporkannya ke telepon anak sehat 129 milik Kementrian Sosial.

Selain itu, jangan ragu untuk mengajak mereka mengobrol jika Mama bertemu di angkutan umum, misalnya, atau di rumah makan. Anak-anak korban eksploitasi sesungguhnya sangat membutuhkan teman yang dapat mendengarkan dan membantunya keluar dari jalanan.

Mama juga bisa mencari tahu dan memperkenalkan mereka pada yayasan-yayasan yang peduli terhadap anak jalanan.


Eksploitasi anak tak hanya terjadi di jalanan

Dan, Mama, eksploitasi anak ternyata tidak hanya terjadi pada anak-anak kurang mampu, anak dari keluarga berkecukupan pun juga bisa menjadi korban. Bahkan mungkin anak-anak kita sendiri juga mengalaminya!

Tapi kita kan orang tuanya. Kita tahu apa yang baik untuk anak-anak. Kita tahu, apa yang mereka mau?

Benarkah demikian, Ma? Coba renungkan lagi deh, terutama mengenai "syarat" sebuah tindakan bisa dikatakan sebagai eksploitasi anak.

Seorang anak bisa dikatakan menjadi korban eksploitasi jika:

  • Diwajibkan melakukan sesuatu demi mewujudkan ambisi orang tua. Contohnya, dipaksa mengikuti lomba fashion show, padahal anak tidak menyukainya.
  • Didandani dan diajari berbicara layaknya orang dewasa demi mendapatkan popularitas.
  • Dipaksa melakukan sesuatu hingga membuatnya tertekan, seperti mengikuti banyak kursus di luar sekolah tanpa memberinya kesempatan memilih ataupun istirahat.
  • Disertakan dalam berbagai lomba atau performance, dengan tujuan mendapatkan uang
  • Diberikan tanggung jawab melebihi kemampuannya, sehingga ia tidak bisa memperoleh hak sebagai anak-anak, misalnya seperti hak untuk bermain.
See? Tak hanya anak-anak jalanan saja yang dieksploitasi, bukan? Anak-anak kita juga  mungkin mengalaminya.

Sekarang, waktunya kita merenung lagi deh. Apakah semua yang kita lakukan--yang kita kira--untuk menyenangkan si kecil itu benar-benar membuatnya senang? Apakah ia merasa terpaksa saat melakukannya? 

Apakah ada sorot mata ketakutan saat ia menerima "perintah" atau "instruksi" untuk melakukan sesuatu?

Betapa ironisnya, kalau ternyata kita tak perlu jauh-jauh untuk menemukan korban eksploitasi ini.
Hentikan Eksploitasi Anak - Jangan Salah, Kita Sendiri Juga Sering Melakukannya Lo! Hentikan Eksploitasi Anak - Jangan Salah, Kita Sendiri Juga Sering Melakukannya Lo! Reviewed by Carolina Ratri on September 19, 2018 Rating: 5

No comments