Anak-Anak Menyanyikan Lagu Dewasa - Yay or Nay?



But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you're holding mine

Familier dengan lagu di atas, Ma? Betul. Itu lagunya Ed Sheeran. Bagus ya? Mama suka? Oh, suka nyanyiin ya, Ma? Kalau seumpama lirik lagu dewasa di atas dinyanyikan oleh si kecil, gimana, Ma?

Meski tak terlalu vulgar dan cukup puitis, tapi jelas, lagu Perfect bukanlah lagu untuk konsumsi anak-anak ya. Itu adalah lagu dewasa, untuk sepasang orang yang sudah dewasa.

Kasus lain, seorang anak bisa dengan lancar menyanyikan lagu Despacito, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “Aku ingin melepas pakaianmu secara perlahan, sambil menciummu...”

Apa yang Mama rasakan?
Meksi mungkin si kecil masih belum ngerti artinya, dan ia hanya asal nyanyi, but still ... Saya yang dengar ya mau nggak mau ya merasa risi.

Saya sih terus terang pikirannya langsung melayang saat saya kecil dulu. Lagu-lagu yang akrab di telinga saya adalah lagunya Joshua Suherman yang Diobok-Obok, Trio Kwek-Kwek yang Kutakut Mamaku Marah, atau Tina Toon dengan Bolo-Bolo-nya.

Kok ya nge-gap sekali ya, antara angkatan saya dulu dengan anak-anak generasi Alfa ini? Sekarang lagu anak makin langka. Akhirnya, mereka pun mendengarkan lagu-lagu dewasa.
Atau mungkin karena terbiasa mendengar lagu dewasa yang lebih sering diputar di rumah oleh mama dan papanya, dan oleh kakak-kakaknya?

Karena bagaimanapun, kita nggak bisa memungkiri, bahwa faktor lingkungan lebih berpengaruh untuk hal semacam ini, bukan?

Makin miris ketika kurang lebih setahun atau dua tahun yang lalu--saya lupa tepatnya--saya sempat tahu ada video dari Youtube yang menyebar secara viral. Isinya seorang anak perempuan menyanyikan lagu dangdut berjudul Lelaki Kardus. Ceritanya tentang dia yang curhat mengenai ayahnya yang selingkuh dan meninggalkan ibunya.

Adududuh, Mama. Mau nangis rasanya saya dengar liriknya. Ini beneran ini dinyanyikan oleh anak-anak?

*cuci muka*

Memang ini soal tren ya. Mungkin dulu, orang punya keterbatasan dalam membuat lagu, sehingga liriknya sederhana, melodinya pun sangat easy listening. Mudah dihafal, mudah dinyanyikan oleh siapa saja. Tapi ya, mungkin sudah nggak trendy lagi sekarang.

Coba saja, Ma. Lagu Anak Gembala. Bagus kan ya, lagunya? Tapi anak-anak zaman sekarang mungkin sudah tak pernah melihat gembala dan ternaknya. Ini semacam lagu yang ngawang-ngawang. Nggak ada “buktinya”. Sedangkan anak-anak akan lebih suka dengan hal-hal yang ditemuinya sehari-hari.

So, ini memang soal perkembangan zaman. Tapi, bukan berarti kita harus membiarkan anak-anak menyanyikan lagu semacam Despacito kan? Lagi-lagi adalah tugas kita, orang tuanya, untuk memilihkan lagu yang “aman” dan bisa dinyanyikan oleh anak-anak.

Terus, lagu dan musik seperti apa yang cocok diperdengarkan untuk si kecil? Well, untuk bisa memilihkan dengan tepat, itu adalah tugas kita.

Beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk memperkenalkan musik dan lagu yang tepat untuk si kecil, dan bukan lagu dewasa


1. Perhatikan usia dan kebutuhan

Bayi, batita, balita, dan anak-anak memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda-beda ketika menerima stimulus berupa musik.

Bayi, misalnya, baru bisa mencerna alunan musik yang sangat sederhana. Berbeda dengan balita yang mulai bisa menikmati lagu yang lebih ramai dan dengan tempo yang lebih cepat.

Jadi, sesuaikan musik yang diperdengarkan dengan usianya.

2. Batasi instrumen musiknya

Semakin muda usia anak, semakin sedikit instrumen yang bisa dikenali. Oleh karena itu, jangan paksakan otak anak untuk menerima musik dari instrumen yang terlalu banyak ya, Ma.

Anak usia satu tahun, misalnya, hanya bisa mengenali sampai dengan tiga instrumen saja. Sebaiknya Mama juga menyesuaikan, sehingga indra anak yang sedang berkembang bisa mengidentifikasi bebunyian yang terbatas itu saja dulu.

Misalnya, bunyi gitar, perkusi dan piano.

Semakin besar ia, ia akan semakin banyak mengenali lebih banyak lagi instrumen.


3. Nada dan tempo

Lagu untuk bayi, berbeda dengan lagu untuk balita dan anak sekolah dasar (apalagi lagu dewasa). Perbedaan yang paling signifikan adalah dari nada dan tempo lagunya.

Untuk bayi, biasanya orang tua bisa memperdengarkan lagu dan musik yang mengalun lembut, sederhana, dan dengan tempo yang lambat.

Sementara untuk anak yang lebih besar, Mama bisa mengenalkan musik yang lebih dinamis dan santai.


4. Hati-hati dengan lirik dan maknanya

Orang tua pun perlu memahami lirik dari lagu yang diperdengarkan. Liriknya--kalau menurut saya sih--sebaiknya menjauhi hal-hal yang berbau SARA, seks dan pornografi, juga kekerasan.

Kalaupun memang lagu seperti ini harus diperdengarkan, maka orang tua harus siap dengan penjelasan (yang mungkin akan panjang).

Mama pasti sudah tahu kan, bahwa daya tangkap anak itu terbatas, sehingga dia belum mengerti mana hal yang baik dan buruk. Akan lebih baik jika kita beri ia lagu dengan makna yang positif saja, dan mudah dicerna.


5. Dominasi dengan lagu yang sesuai

Jika anak sudah terlanjur terpapar musik dan lagu yang tak sesuai dengan kebutuhannya, Mama bisa menyiasatinya dengan mendominasi anak dengan lagu-lagu yang sesuai.

Di rumah, Mama bisa mengajaknya bernyanyi bersama atau menyetel lagu anak-anak saat ia bermain.

Alihkan perhatiannya, dan tunjukkan hal lain yang lebih menarik untuknya.


Nah, jadi, kita memang tak bisa menghalangi apa yang datang dari luar, Ma. Tapi kita bisa membekali anak-anak dengan hal-hal yang bisa membuatnya lebih kuat dan tumbuh lebih bijak.

Berat, Ma, memang tugas kita.
Tapi kita pasti bisa. Karena kita setrong!
Anak-Anak Menyanyikan Lagu Dewasa - Yay or Nay? Anak-Anak Menyanyikan Lagu Dewasa - Yay or Nay? Reviewed by Carolina Ratri on September 09, 2018 Rating: 5

No comments