Please Deh, Jangan Ajak Anak Nonton Film dengan Rating R!



Sedih dan miris rasanya, kalau saya melihat buibu zaman sekarang yang begitu ignorant dan egois mengajak anak nonton film dewasa di bioskop.

Sudahlah ajak anak nonton film, masih diposting di media sosial dengan soso wise, memamerkan bahwa tak ada pengaruh untuk anak kalau diajak nonton lagi.

Banyak kasus sudah saya lihat, kebanyakan sih di media sosial. Pada posting foto nonton film, sambil bawa bayi. Filmnya apa? Coco? Peter Rabbit? Oh ya, kalau itu sih baguslah. Ini yang ditonton Deadpool, Logan, IT ... Oh no.

FYI ya, Mamah-mamah cantik dan cerdas, pemberlakuan rating dalam film itu bukannya tanpa maksud ya.

The Motion Picture Association of America, Inc (MPAA) telah menciptakan sistem rating film yang sudah kita gunakan sejak tahun 1966. Untuk apa? Tentu saja untuk menjadi pedoman saat kita hendak nonton film. Dewan MPAA ini sendiri terdiri atas 8-13 anggota, yang kesemuanya merupakan para ahli parenting di Amerika, dan mempunyai pengalaman sebagai praktisi pengasuhan anak. So, mereka benar-benar ahli, punya pengalaman, punya kompetensi, dan concern dengan dunia anak.

Berikut adalah rating film yang telah dibuat oleh MPAA yang bisa menjadi pedoman kita nonton film, terutama saat nonton film bareng anak.

Rating film yang ditetapkan oleh MPAA. Image via The Conflicted Film Snob. Silakan dicermati ya.



Film dengan rating R (Restricted) adalah film yang dianggap mengandung materi dewasa, termasuk mengandung kata-kata yang kurang pantas atau keras, intense violence atau kekerasan hebat, adegan seksual, nudity (ada adegan telanjang), dan sebagainya.

Seiring peluncurannya, MPAA menegaskan, supaya orang tua sebaiknya tidak membawa anak-anak untuk nonton film R-rated.

Kenapa sih nggak boleh? Padahal filmnya kan keren banget. Coba lihat IT deh. Dapat rating 8 di IMDb, dan 85% di Rotten Tomatoes lo! Anak-anak mesti lihat nih film bagus!

Sebelum membawa anak-anak untuk nonton film rating R, pertimbangkanlah beberapa alasan berikut ini, Ma.


Alasan mengapa kita sebaiknya tak mengajak anak--terutama bayi--nonton film ber-rating R


Kita akan sulit menikmati filmnya

Film R-Rated yang kita tonton itu bisa saja memang bagus, tapi mungkin di dalamnya ada adegan telanjang atau adegan seksual.

I don't know about you, Ma, tapi kalau saya pribadi, nonton adegan seperti itu dengan anak-anak di samping saya, rasanya kok ... ewww! Nggak nyaman, awkward, dan berbagai perasaan bercampur baur.

Yeah, kita bisa saja ngeles, bahwa itu untuk pendidikan seks usia dini. Tapi, that's not the way it works! Bukan itu sih caranya untuk memberikan pendidikan seks pada anak-anak. Tidak dengan mengajak mereka nonton film dengan adegan seksual.

Kalaupun iya, nggak di bioskop juga. Dan pasti kita harus menyesuaikan usianya kan? Ada tahapan tertentu yang harus kita perhatikan untuk mendidik anak-anak, terutama kalau soal seks. Nggak boleh sembarangan.



Anak-anak mungkin akan bosan

Untuk film lain yang lebih serius yang menyentuh tapi memiliki tema dewasa, misalnya seperti Schindler's List, anak-anak mungkin dengan cepat akan merasa bosan.

Dan, Mama tahu sendiri kan, bakalan gimana mereka kalau bosan? Kemungkinan yang terjadi adalah mereka akan ribut di dalam bioskop. Bisa ngebayangin nggak, kalau mereka berlarian di lorong-lorong di kursi di bioskop? Atau, merengek minta jajan lagi? Mana bisa sih konsentrasi nonton film? Yang ada kita ikutan ribut mengendalikan anak-anak.

Nggak cuma Mama yang terganggu, penonton lainnya juga pasti. Dan kalau saya sih nggak mau deh berurusan sama penonton sebioskop. Cari mati kayaknya mah~

Jadi, sebelum diusir dari dalam ruang bioskop karena kegaduhan yang kita timbulkan, sebaiknya kita pertimbangkan saja baik-baik deh kalau mau ajak anak nonton film dengan rating R ini.




Berefek buruk pada psikis anak

Untuk film horor, thriller dan film-film sejenisnya, seperti IT, atau Sweeny Todd yang dibintangi oleh Johnny Depp, anak-anak dikhawatirkan masih belum bisa menerima adegan-adegan yang ada dalam nalarnya. Pemahaman mereka belum sedewasa kita, hingga bisa saja mereka mengalami kesulitan untuk memahami bahwa yang ada di film hanyalah rekaan belaka, karena mereka memang masih kesulitan membedakan mana fantasi dan kenyataan.

Kalau nggak percaya, nih ada penelitiannya lo, Ma.
Tahun 2006, ada penelitian yang dilakukan oleh Morgan Stanley Children's Hospital dan Columbia University Medical Center. Para ahli menemukan fakta, bahwa anak-anak dengan usia di bawah 5 tahun yang diajak nonton film horor, akan terpengaruh secara psikologis oleh film-film yang mereka tonton. Efek yang timbul kemudian pada mereka adalah diliputi kecemasan, fobia, mengalami masalah tidur, lebih agresif, dan suka kekerasan.

Dih. Ya masa mau sih, anak-anak jadi tumbuh dengan ancaman seperti itu, kalau kita nekat aja bawa mereka nonton film dengan rating R? Saya sih enggak deh.

So, jika Mama mau ajak anak nonton film yang belum pernah Mama tonton juga sebelumnya, pertimbangkanlah konten dari film tersebut dengan mengecek rating-nya. Pilihlah film yang sesuai untuk si kecil.



Mencegah konsumsi alkohol lebih awal

Nah, yang satu ini jangan dikira nggak ada hubungannya ya. Ada kok penelitiannya, bahwa anak-anak yang terbiasa nonton film R-Rated berisiko kecanduan alkohol pada usia dini.

Hal ini sudah dibuktikan melalui sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Studies on Alcohol and Drugs edisi Mei 2010, yang dilakukan di wilayah New England dan melibatkan 3.600 siswa yang bersekolah di sekolah menengah.

Para peneliti melakukan penelitian terhadap sejumlah anak-anak selama 13 - 24 bulan. Dari kelompok yang mengatakan bahwa mereka tidak diizinkan nonton film R-rated, hanya 3% dari mereka yang mulai minum alkohol.

Sedangkan, mereka yang mengaku sesekali diizinkan menonton film R-rated, 19% di antaranya mulai mengonsumsi alkohol sejak usia sekolah. Dan, 25 % dari kelompok yang selalu dibiarkan nonton film R-rated mulai minum alkohol sejak mereka masih usia sekolah.

Oh, menurut Mama, ini tergantung pola asuh orang tua? Hmmm, nggak juga. Karena dalam penelitian ini, para peneliti juga memperhitungkan pola asuh orang tua masing-masing. Anak-anak ditanyai, seberapa ketat pola pengasuhan orang tua mereka pada umumnya.

Dan, hasilnya, bahkan dengan pertimbangan tersebut, peneliti masih saja menemukan bahwa paparan film R-rated masih terkait dengan peningkatan kemungkinan minum alkohol dini.



Agar Mama lebih paham soal rating film ini, berikut adalah beberapa pedoman mengenai tontonan seperti apa yang sesuai dengan usia anak-anak, seperti yang dilansir oleh situs Common Sense Media.


  • Anak-anak berusia 2-4 tahun, masih boleh melihat cartoon violence, atau adegan "kekerasan" dalam film kartun. Tapi jauhkan mereka dari apa pun yang menunjukkan agresi fisik sebagai alat resolusi konflik, karena mereka akan meniru apa yang mereka lihat.
  • Anak usia 5-7 tahun, sudah bisa menerima dengan baik adegan kekerasan kartun yang sedikit lebih kasar, ketegangan, dan kekerasan fantasi. Namun, adegan kekerasan yang bisa mengakibatkan kematian atau cedera serius sebaiknya masih dihindarkan.
  • Anak-anak usia 8-10 tahun dapat menangani adegan pertempuran yang melibatkan pedang, atau aksi tembak-menembak selama tidak ada adegan gore atau adegan berdarah-darah.
  • Anak usia 11-12 tahun, sudah bisa memahami dengan baik adegan pertempuran yang terjadi dalam sejarah (pernah benar-benar terjadi), dan pertempuran fantasi. Namun, pastikan tidak ada adegan penuh darah yang terlalu detail, apalagi yang juga melibatkan seksualitas atau nudity, dan rasis.
  • Anak-anak usia 13-17 tahun sudah lebih paham akan adegan tembak menembak, ledakan, dan kekerasan yang dipoles dengan efek berteknologi tinggi. Juga sudah mengerti mengenai adegan kecelakaan dengan kerusakan parah atau yang menyebabkan kematian. Namun, tetap perlu Mama dampingi dan berikan pengertian secara simultan, bahwa kekerasan yang ditampilkan dalam film tersebut akan membawa banyak rasa sakit dan penderitaan pada orang lain. Batasi waktu juga ya, Ma. Jangan biarkan mereka terlalu banyak terpapar adegan kekerasan seperti ini.


Yang pasti, setiap kali selesai nonton film bareng si kecil, amati perilakunya. Tanyakan, apa pendapatnya mengenai film yang baru saja ditontonnya. Perhatikan, apakah ada kebiasaannya yang berubah sejak itu.

Ya, tugas orang tua itu memang berat, lantaran hampir sebagian besar melibatkan ego kita yang harus ditekan kuat-kuat. Semua dilakukan agar anak bisa tumbuh dengan baik.

Hal ini tentunya sudah kita sadari sejak awal kita merencanakan untuk punya anak. Punya anak berarti punya tanggung jawab.

Jadi, mari kita belajar menjadi orang tua yang bertanggung jawab.

Please Deh, Jangan Ajak Anak Nonton Film dengan Rating R! Please Deh, Jangan Ajak Anak Nonton Film dengan Rating R! Reviewed by Carolina Ratri on September 13, 2018 Rating: 5

No comments