Beginilah Pendidikan Seks Usia Dini yang Harus Kita Ajarkan pada Si Kecil sejak Sekarang




Nggak tahu ya, kenapa orang tua zaman sekarang masih risih kalau harus melakukan pendidikan seks usia dini pada anak masing-masing.

Menurut mereka, apa sih pendidikan seks usia dini itu?
Kasih liat anak-anak berbagai posisi kamasutra? Kenalin sama anak berbagai makanan afrodisiak? Kenalin gimana enaknya ena-ena?

Bukaaan! Bukan begitu!

Ini lo, yang masih tertanam di otak orang tua, sehingga mereka risih memberikan pendidikan seks usia dini untuk anak mereka sendiri.

Kalau anaknya tiba-tiba ketahuan nonton film porno, baru deh bingung.

Tidak. Pendidikan seks usia dini bisa kita berikan bahkan sejak anak berusia satu tahun. Seperti yang sudah dibahas oleh Clara Kriswanto, seorang psikolog anak, yang membenarkan bahwa pendidikan seks usia dini pada anak bisa dimulai pada usia 0 – 5 tahun. Dan proses ini bisa berlangsung hingga anak berusia praremaja hingga remaja tahap akhir.

Pendidikan dan pengetahuan mengenai seks yang diberikan sejak masih sangat dini ini akan mempermudah anak memahami saat mereka harus mengembangkan harga diri, kepercayaan diri, kepribadian yang sehat, juga penerimaan terhadap diri sendiri secara positif.

Dan orang tua menjadi pihak pertama yang bertanggung jawab untuk memperkenalkan hal ini pada anak.

Nah, apa saja yang bisa kita, sebagai orang tua, berikan sebagai landasan pendidikan seks usia dini tahap awal?

Jangan membayangkan bahwa kita akan menerangkan hal-hal "ajaib", semacam teknik Tantra atau posisi kamasutra.

Justru, kita harus memulainya dari hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari. Berikut beberapa contohnya.

Beberapa pendidikan seks usia dini yang bisa mulai kita berikan pada anak-anak sejak mereka masih kecil


1. Ajak anak mengenali tubuhnya


Kita dapat melakukannya sembari memandikannya di pagi atau di sore hari.  Jelaskan fungsi setiap bagian secara sederhana.

Beberapa psikolog memberikan saran, bahwa kita jangan mengganti nama bagian tubuh dengan nama lain yang terdengar lucu atau imut-imut. Misalnya, mengganti nama vagina dengan 'ninut'. Atau, penis dengan 'belalai'. Hal ini dikarenakan anak akan menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu, dan kemudian malah membuatnya menjadi bahan lelucon yang tak pantas pada akhirnya.

Sebutkan nama-nama bagian tubuhnya sesuai dengan nama yang sebenarnya, dengan nada yang biasa. Bukan dengan nada yang lucu.

Berikan pengertian, bahwa tubuhnya adalah miliknya yang paling berharga yang pernah Tuhan berikan, dan dia harus merawatnya, membersihkannya, dan menjaganya dengan baik.


2. Bangun kebiasaan positif


Biasakan si kecil untuk melakukan hal-hal yang positif, misalnya tidak berganti baju di tempat terbuka, tidak pipis di sembarang tempat, memberinya pakaian yang sopan dan rapi dan lain-lain.

Jadi, cepat pikirkan solusi terbaik jika suatu saat anak kebelet pipis saat diajak bepergian. Ajak dia pipis di toilet, bukan malah mengajaknya pipis di pinggir jalan, di belakang mobil, dan di tempat-tempat lain yang tak seharusnya ya.

Juga jangan semena-mena langsung melucuti bajunya di tempat umum, dengan dalih, "Nggak apa-apa, masih anak-anak ini."

Ingat  bahwa hal-hal kecil seperti ini bisa menjadi kebiasaan, sampai mereka besar nanti.


3. Jangan membuatnya malu dengan hal-hal yang tak sepantasnya


Kadang pose si kecil memang lucu kalau difoto, sehingga membuat kita ingin memamerkannya pada orang lain dengan cara mengunggahnya ke media sosial.

Namun, kita juga harus mengerti bahwa tidak semua fotonya pantas untuk kita publikasikan atau pamerkan pada umum. Misalnya, foto saat dia mandi, foto saat dia telanjang, atau foto saat dia tidur dengan posisi yang konyol.

Dengan menghindari memasang foto-foto tersebut di media sosial atau internet, kita secara tak langsung tak membiasakannya untuk memamerkan sesuatu yang seharusnya tak dipamerkan.

Apalagi kalau kondisinya benar-benar kurang pantas, dalam artian, ia dalam keadaan telanjang, atau memperlihatkan bagian tubuhnya yang seharusnya tertutupi.

Kebayang nggak, kalau kemudian dia mendapati fotonya yang kelihatan bokong telanjangnya di media sosial kita saat ia besar nanti? Besar kemungkinan, dia risih. Apalagi kalau sampai bisa memengaruhi kariernya kelak. Bosnya yang lihat? Kliennya yang tanpa sengaja menemukannya?

Nggak mau kan, kita menjadi biang keladi kecewanya dia?

Memamerkan bagian-bagian yang terlarang daripadanya juga akan membuatnya berpikir, 'Oh, berarti nggak apa-apa kali kalau aku foto telanjang, soalnya Mama juga melakukannya?'

Aduh!


4. Tanamkan pentingnya menjaga organ tubuh tertentu, terutama alat vitalnya.


Selain menyebut nama alat vitalnya dengan nama yang sebenarnya, berikan pula pengertian, tentu saja dengan bahasa yang bisa dia mengerti, bahwa alat vital tidak boleh dipertontonkan ataupun disentuh oleh orang lain, selain orang tuanya saat mandi atau dibersihkan, atau oleh dokter terkait kesehatannya.

Ajarkan si kecil bagaimana harus bereaksi saat ada orang lain yang memegang alat vitalnya, tanpa harus lebai tapi memberi efek yang sesuai.


5. Ajarkan cara memilih pakaian


Cara anak berpakaian bisa jadi merupakan caranya berekspresi. Jadi, biarkan dia memilih sendiri pakaian yang ingin dipakainya, sesuai dengan kenyamanannya. Tapi, kita harus membantunya dengan mengajarkan bagaimana cara memilih pakaian yang baik.

Bahwa pakaian yang kita pakai merupakan bentuk tanggung jawab kita terhadap tubuh yang kita punya.


Hal-hal kecil tersebutlah yang bisa kita kembangkan dalam rangka memperkenalkan pendidikan seks usia dini pada anak-anak, untuk kemudian menuju perilaku yang menjunjung norma sopan santun, dan peduli pada norma etika dan moral.

Kita bisa memulai dari hal yang kecil untuk kemudian mendapatkan hasil yang besar nantinya.

Beginilah Pendidikan Seks Usia Dini yang Harus Kita Ajarkan pada Si Kecil sejak Sekarang Beginilah Pendidikan Seks Usia Dini yang Harus Kita Ajarkan pada Si Kecil sejak Sekarang Reviewed by Carolina Ratri on August 08, 2018 Rating: 5

No comments