Kita Tetap Ibu yang Baik Meski Kita Melakukan 7 Dosa Parenting Ini




Jadi ibu yang baik itu harus begini! Orang tua itu harus begitu! Begini! Begitu!

Argh! Iya sih, memang, kalau pengin punya anak ya harus siap dengan segala tanggung jawab yang kemudian ada, dan segala risikonya juga.

Berat! Segala tuntutan menjadi orang tua itu nggak main-main. Kita terlalu membebaskan anak-anak bereksplorasi, dibilang nggak bisa mengendalikan. Lain kali, saat kita sedang mendisiplinkan anak, dibilang we’re too uptight.

Ugh! Menjadi orang tua memang nggak pernah ada sekolahnya, nggak pernah diajarkan di sekolah mana pun. Memang banyak tips dan tulisan parenting yang bisa dibaca, but somehow saat benar-benar punya anak, semua teori tersebut tiba-tiba saja hilang musnah tak berbekas.

Terus gimana dong?

Yah, nggak apa-apa, kalau kita nggak bisa sesempurna tuntutan semua orang. Nggak apa-apa juga kalau kita punya metode sendiri dalam mendidik anak. Kita berhak untuk mempunyai cara personal untuk menjalani peran sebagai seorang mama, apa pun yang terjadi.

Kita tetap jadi ibu yang baik, meskipun ...


1. Menghabiskan banyak waktu di internet, terutama media sosial


Katanya ibu yang terlalu banyak menghabiskan banyak waktu di internet dan media sosial jadi mengacuhkan anak-anaknya.

Lihat sisi baiknya, dengan banyak update berita dan apa pun yang terjadi di media sosial, kita jadi tahu apa yang terjadi di dunia maya tersebut dan kemudian bisa menyaring hal-hal yang sekiranya berbahaya jika si kecil juga sudah mulai bermain dan berkenalan dengan dunia maya.

Kita akan tahu bagaimana mengawasi si kecil dan si remaja saat mereka gaul atau memanfaatkan teknologi. Kita nggak akan kudet, dan akan bisa nyambung dengan omongan anak-anak. Betul nggak, Ma?

Yang perlu diperhatikan hanyalah jangan sampai benar-benar menyita waktu, apalagi kalau hanya untuk sekadar membaca berita gosip, atau ‘perang status’ yang nggak penting. Kita harus bisa memilah mana yang benar-benar perlu diperhatikan, mana yang tidak.

Setuju, Ma?


2. Si kecil belum bisa juga berbahasa Inggris

Suka merasa minder ketika si kecil belum juga fasih berbahasa Inggris, atau malah cenderung nggak menyukai pelajaran bahasa Inggris, sedangkan anak-anak yang lain bahkan sudah casciscus ngobrol dalam bahasa Inggris dengan mamanya setiap hari?

Ah, sebodo amat.

Memang sih sekarang sudah jadi kesadaran bagi para orang tua akan pentingnya melatih anak-anak bahasa asing sejak dini. Biasanya sih alasannya karena ingin menyiapkan anak dalam persaingan global di masa depan nanti.

Tapi no problem, jika kita memang ingin menekankan dulu agar si kecil menguasai bahasa ibunya lebih dulu sebelum menguasai bahasa yang lain. Bahkan jika bahasa ibunya adalah bahasa daerah sekalipun.

Para peneliti dari Harvard Graduate School of Education US menganjurkan bahwa orang tua seharusnya membesarkan anak-anaknya dalam bahasa ibu, bahasa yang dengan sempurna dikuasai oleh orang tuanya, sehingga anak nggak saja bisa mengerti secara lisan dan tulisan, tetapi juga mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya dalam bahasa tersebut.


3. Memberikan gadget pada anak

Memang banyak bahaya mengintai di dunia maya, mulai dari sekadar kecanduan games sampai ancaman pornografi.

Tapi, di zaman serba canggih kayak gini, mana mungkin sih kita bisa menjauhkan anak dari berbagai gadget sama sekali? Apalagi kalau dia yang tadinya pecicilan tiba-tiba bisa anteng setelah disodori tablet atau iPad.

You know what? Gadget nggak selalu berpengaruh buruk kok.

Tammi Williams, M.D., seorang dokter spesialis anak dari Baylor Medical Center, AS, mengatakan bahwa kemampuan menggunakan teknologi dapat digunakan untuk membuka wawasan dan melatih anak untuk lebih open mind terhadap segala sesuatu.

Penggunaan komputer atau laptop, baik yang menggunakan touchscreen atau keyboard dan mouse, juga bermanfaat lo, untuk melatih koordinasi mata dan tangan si kecil.

Selain itu pengalaman interaktif lewat aplikasi-aplikasi di smartphone ataupun di gadget lain juga dapat menstimulasi perkembangan otaknya. Misalnya pada permainan-permainan edukatif puzzle, mencocokkan gambar, mewarnai, dan lain-lain.

Nah, sekarang, yang harus kita perhatikan adalah kapan waktu yang tepat untuk membiarkan si kecil bermain gadget? Apakah setiap waktu? Atau hanya saat-saat tertentu saja?

Itu sih terserah kita, kapan pun kita menilai si kecil membutuhkannya, kita bisa memberikannya. Karena kitalah yang bisa mengukur batas penggunaannya oleh si kecil.

Dan, sebaiknya jangan terlalu mengandalkan fitur parental control ya. Pengawasan langsung dari kita sendiri adalah yang terpenting.


4. Sesekali ajak jajan makanan cepat saji

Pernah lihat iklan ini nggak?

Sebuah keluarga menanti si mama pulang kerja. Namun ternyata saat sudah sampai di rumah, si mama sudah terlalu capek untuk masak. Jadilah mereka menelepon delivery, dan memesan makanan cepat saji.

Yes, makanan cepat saji selalu bisa menjadi penyelamat di saat-saat seperti ini bukan?

Ibu yang baik tidak sama dengan yang sempurna. Ada kalanya kita boleh memikirkan cara-cara praktis lainnya, agar hidup kita bisa menjadi lebih mudah dan happy.

Nggak sempat masak? Pesan makanan dengan bantuan ojek online. Nggak suka setrika? Kirim saja ke laundry, tahu beres.

Nah, untuk kasus makanan cepat saji ini, Ma, agar bisa agak lebih sehat sedikit lakukan beberapa trik ala Mama Rempong berikut ini deh.

  • Nggak usah memesan soft drinks. Pilih saja air putih, atau teh tanpa gula
  • Hati-hati dengan salad dressing atau topping tambahan, yang biasanya menyembunyikan kalori dan lemak yang sesungguhnya.
  • Jika tersedia, sebaiknya pilihlah daging yang dipanggang ketimbang yang digoreng.
  • Nggak perlu memesan porsi superlarge kalau memang tidak diperlukan, meski harganya mungkin hanya selisih sedikit saja dengan porsi reguler.

Kepraktisan akan memudahkan hidup. Kalau bisa gampang, kenapa dibikin susah. Betul nggak? Betul!


5. Menitipkan anak pada orang lain

Kita harus sering pergi, atau bekerja. Maka kita pun menitipkan si kecil pada neneknya, atau saudara kita, atau pengasuh, ataupun di daycare.

Bukankah kita bekerja karena kita sayang keluarga? Ya, kita bekerja demi keluarga juga!

Dan tentunya kita harus meninggalkan si kecil karena nggak mungkin juga membawanya ke kantor. Siapa pun yang kita percaya untuk menjaga si kecil, pastinya sudah lulus uji fit and proper test. Jadi, tinggalkan saja si kecil pada mereka, dan mereka pasti akan menyayanginya.

Quality over quantity, saat kita punya waktu lebih banyak, maka kita harus mengutamakan si kecil ketimbang yang lainnya, demi waktu-waktu tak bisa bersamanya.

Percayalah, dengan demikian, kita justru akan menghargai waktu-waktu kebersamaan lebih lagi.


6. Being a tiger mom

Kita mendidik anak-anak supaya mandiri dan nggak manja, agar mereka tumbuh sebagai pribadi yang kuat. Kita begitu tegas, agar mereka berkembang menjadi calon orang sukses di masa mendatang. Kita tak menoleransi kesalahan dan memberikan pemahaman mengenai konsekuensi dan tanggung jawab.

Bersama kita, anak-anak lebih mengenal batasan yang jelas, karena kita tak pernah berada di wilayah abu-abu.

Apalagi dengan adanya penelitian oleh JAMA Pediatrics, yang membuktikan bahwa anak remaja dari seorang tiger mom, 38% lebih kecil kemungkinannya untuk minum-minum di pesta hingga mabuk, 39% lebih kecil kemungkinannya untuk merokok, dan 43% lebih kecil kemungkinannya untuk menggunakan ganja.

So? Memangnya kenapa kalau kita adalah tiger mom?

Yang perlu kita lakukan adalah tetap mengendalikan diri saja agar tak over control terhadap anak-anak. Over controlling juga akan membawa dampak yang tak baik pada mereka.


7. Si kecil berbadan kurus

Kurus itu tidak sama dengan kurang gizi. Ingat ya!

Bisa jadi si kecil mengimbangi makanan yang masuk ke dalam perutnya dengan aktivitas yang luar biasa. Semua makanan akhirnya bisa berubah menjadi energi yang besar untuknya.

Kurus itu tidak sama dengan kurang makan. Nyatanya, si kecil tetap lahap memakan segala sesuatu yang disodorkan padanya kan?

Asal masih berada dalam area aman dalam diagram pertumbuhan, ataupun dokter menyatakan dia sehat, biarkan saja tubuhnya kecil. Obesitas juga akan membawa masalah tersendiri bagi anak lo!
Yang penting, selalu sediakan asupan gizi yang berimbang untuknya ya!


How does it feel now? Better?

Memang seharusnya kita nggak perlu pernah merasa sedih atau bersalah atas apa pun yang kita lakukan untuk dan demi si kecil. Kita pasti punya alasan, dan kitlah yang tahu, mana yang terbaik untuk buah hati Mama.

Kita adalah ibu yang baik.

Kita Tetap Ibu yang Baik Meski Kita Melakukan 7 Dosa Parenting Ini Kita Tetap Ibu yang Baik Meski Kita Melakukan 7 Dosa Parenting Ini Reviewed by Carolina Ratri on August 18, 2018 Rating: 5

No comments