Pelecehan Seksual Akan Selalu Menghantui Perempuan sampai Kapan Pun!

Pelecehan seksual. Image via glamafrica.com


“Pelecehan seksual pada perempuan di tahun 2016 meningkat 100%.”
“93% kasus pemerkosaan di Indonesia tidak dilaporkan.”

Membaca berbagai headlines berita akhir-akhir ini membuat saya teringat kembali akan sebuah peristiwa yang saya alami kira-kira satu tahun yang lalu, dan peristiwa-peristiwa lain ke belakang.


Peristiwa yang membuat saya trauma berbulan-bulan


Pagi itu, saya seperti biasa hendak melakukan olahraga kegemaran saya, bersepeda. Pukul 05.00 pagi, saya mengeluarkan sepeda dari garasi. Saya sudah mengenakan celana panjang training dan kaus Tshirt longgar yang mudah menyerap keringat. Saya sengaja nggak mengenakan jaket, karena cuaca sepertinya bakalan panas seperti hari-hari sebelumnya.

Saya pun mulai mengayuh sepeda keluar dari pagar rumah. Saya santai bersepeda, saya nikmati udara pagi, saya dengarkan kicau burung-burung yang beterbangan rendah. Saya memang tak pernah bersepeda sambil mendengarkan music dengan headphone atau earphone, karena saya merasa kalau telinga saya tertutup saya menjadi kurang waspada.

Dengan telinga yang bebas, saya bisa mendengar suara alam yang indah, pun tetap waspada akan kondisi sekitar. We never know, right?

Saat baru beberapa ratus meter dari rumah, saya pun sadar bahwa ada sepeda motor di belakang saya. Saya agak menepi dan memperlambat kayuhan sepeda, agar si pengendara sepeda motor bisa mendahului saya yang memang sedang pemanasan.

Si pengendara sepeda motor memang mendahului saya. Namun, tangan si pengendara tiba-tiba saja meraup dada saya dan meremasnya dengan kencang!

Saya oleng dan terjatuh dari sepeda. Tubuh saya menggigil hebat. Shock atas perlakuan yang saya terima, juga shock akibat terjatuh dari sepeda. Sakit di lutut saya tak begitu terasa. Sakit di dada saya … itu masih terasa hingga kini.

Saya berteriak, mengumpat keras. Sampai bergema di lingkungan perumahan.

Tapi, adakah yang keluar untuk melihat apa yang terjadi? Nggak ada.

Nggak ada seorang pun keluar dari rumah masing-masing, sekadar kepo mengapa ada perempuan berteriak. Nggak ada, Ma, nggak seorang pun keluar dari rumah. Lingkungan itu tetap sepi. Padahal hari pun sudah cukup terang, dan jalan kampung itu sebenarnya juga termasuk jalan yang ramai dilalui kendaraan.

Tapi, entah kenapa, saat itu tak ada seorang pun yang berada di sana.

Si pengendara motor, alih-alih kabur karena saya berteriak, dia malah berhenti beberapa meter di depan saya. Dia memutar badan, lalu menatap saya sedemikian rupa.

Jangan tanya, bagaimana perasaan saya. Saya nggak bisa menggambarkannya. Dengan tubuh yang masih gemetar hebat, saya bangun, meraih sepeda dan berputar balik.

Saya kayuh sepeda cepat-cepat untuk pulang ke rumah. Saya takut. Takut luar biasa! Bahkan saya seperti merasa si pengendara sepeda motor itu mengejar saya! Berbagai bayangan buruk berkelebatan, hingga membuat saya makin kuat mengayuh sepeda.

Padahal, itu hanya beberapa ratus meter dari rumah, tapi rasanya jauuuh sekali.

Sesampainya di rumah, saya menangis sejadi-jadinya. Saya segera ke kamar mandi (saya sebenarnya sudah mandi pagi itu sebelum mulai bersepeda). Saya mandi lagi. Saya gosok tubuh saya kuat-kuat, sampai sakit. Saya merasa mau muntah. Memuntahi tubuh saya sendiri.

Selesai mandi, dan juga keramas, saya masih belum merasa bersih. Saya ambil baju saya, dan langsung saya buang.

Beberapa hari kemudian, saya juga akhirnya menjual sepeda saya.

Saat saya bercerita mengenai hal ini pada seseorang, dia menyarankan saya untuk melupakannya saja.


Melupakan Pelecehan Seksual yang Saya Alami?


How?
Bahkan sampai sekarang kalau saya ingat, saya masih saja menahan tangis.

Apakah saya lebay? Entah kenapa saran seperti itu membuat saya merasa seperti drama queen. Seolah itu biasa saja terjadi, di mana pun kapan pun.

Tapi, melihat berbagai kasus pelecehan terhadap perempuan yang ada akhir-akhir ini, barangkali memang iya, itu biasa terjadi. Itu yang terdata. Yang nggak terdata dan terlaporkan seperti yang saya alami? Pasti lebih banyak lagi!

Mengapa tidak saya laporkan?

Buat apa? Karena begitu shock-nya, saya tak bisa melihat pelat nomor si pengendara itu. Saya begitu takut, sehingga mana bisa saya mengingat wajahnya? Semua teori yang saya baca, yang banyak saya jumpai di majalah atau di media online mengenai tips dan trik menghindari pelecehan seksual itu, hilang semua!

Semua bullshit! Nggak ada yang bisa dilakukan.

Lagipula, sampai beberapa bulan kemudian saya masih trauma keluar rumah. Saya nggak berani bertemu dengan orang yang tak saya kenal kalau tanpa perlindungan. Perlindungan di sini misalnya, saya berada di dalam mobil, sedangkan si orang asing di luar mobil. Atau misal, kami dibatasi oleh area tertentu.

Kalaupun saya laporkan, iya kalau saya nggak disalahkan? Saya lihat dan dengar, banyak korban pelecehan dan pemerkosaan disalahkan pula atas apa yang mereka kenakan. Bagaimana nanti kalau saya disalahkan, karena mengenakan celana panjang training dan TShirt longgar saya? Bisa defend apa saya?

Saya mengalami trauma ini selama berbulan-bulan. Saya memang berusaha mengatasinya sendiri, tanpa bantuan psikolog atau siapa pun. Ingatan akan peristiwa itu selalu mengganggu sampai sekarang. Saya nggak berani lagi naik sepeda terlalu jauh dari rumah hingga hari ini.

Itu baru saya yang ‘hanya’ mengalami pelecehan seksual. Lalu, bagaimana dengan para korban pemerkosaan? Entahlah, saya nggak berani membayangkan.

Saya yang ‘cuma’ segitu saja sudah trauma berkepanjangan, apalagi mereka?

Kemudian, ingatan saya pun mengembara kembali ke tahun-tahun yang lebih lama lagi.


Ternyata Saya Sudah Mengalaminya Beberapa Kali


Waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Sudah biasa bagi kami saat pelajaran olahraga, kami akan melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi kompleks sekolah.

Seperti biasa, anak-anak berlari per gerombol sesuai dengan gengnya masing-masing. Saya pun berlari bersama beberapa orang teman. Tiba di suatu sudut, tiba-tiba ada seorang pria setengah baya yang menyapa kami.

“Sssttt … Sssstttt!” panggilnya.

Kami bertiga menoleh. Ternyata, si bapak itu mengeluarkan (maaf) alat kelaminnya dari dalam celana.

Sontak kami menjerit ketakutan, dan kabur. Kami berlari kencang, pulang kembali ke sekolah. Kami laporkan kejadian tersebut pada bapak guru olahraga, dan kami bertiga pun segera diamankan ke kantor guru. Ada ibu guru yang kemudian menenangkan kami.

Selanjutnya, entahlah. Sepertinya kami memang ditanya-tanya, tapi saya lupa apa saja pertanyaannya.

Ah, ternyata saya memang sudah beberapa kali mengalami pelecehan seksual. Saya juga pernah dicolek-colek di dalam bus kota yang penuh sesak. Namun, saat itu, saya bisa membalas menginjak keras-keras kaki si pencolek sampai dia berteriak kesakitan. Orang-orang menatap saya karena teriakan si mas itu. Mereka seperti menyalahkan saya. Tapi saya nggak peduli. Saya turun dari bus kota, dan ganti ke bus lain.

Ya, semakin ke sini, pelecehan seksual seperti menjadi makanan sehari-hari bagi kita perempuan.

Banyak yang dilaporkan, namun lebih banyak lagi yang tidak. Kasus pemerkosaan pun hanya sekitar sekian persen saja yang bisa dilaporkan oleh korban, apalagi yang seperti kasus saya itu.


Image via thecompassncsd.com


Akhirnya saya hanya bisa berharap, semoga kita semua semakin peduli terhadap kasus pelecehan di sekitar kita. Jangan hanya abai saat kita melihat ada yang dilecehkan. Jangan pura-pura nggak lihat, kalau ada perempuan yang dilecehkan dan terjadi di dekat kita. Meski kita juga perempuan, kita juga bisa menolongnya kok. Ikutlah berteriak dan meminta bantuan bersama korban.

Kalau bukan sesama perempuan yang saling menolong, lalu siapa lagi, Ma?

Pelecehan Seksual Akan Selalu Menghantui Perempuan sampai Kapan Pun! Pelecehan Seksual Akan Selalu Menghantui Perempuan sampai Kapan Pun! Reviewed by Carolina Ratri on July 28, 2018 Rating: 5

1 comment